Alahan Panjang: Perjalanan yang Tidak Pernah Benar-Benar Rapi
Perjalanan ini dimulai dari rumah seorang teman. Pagi masih gelap, jam baru menunjukkan pukul enam. Kami berangkat setelah sarapan lontong yang entah kenapa sudah buka sejak jam tiga subuh—mungkin memang disiapkan untuk orang-orang yang harus pergi lebih awal dari rencana hidupnya.

Dari sana, motor-motor kami mengarah keluar Pekanbaru menuju Bangkinang. Bukan tujuan utama, hanya titik jeda. Mesin dibiarkan mendingin, rokok dinyalakan satu dua batang, badan sedikit diluruskan. Tidak banyak obrolan penting—perjalanan panjang rasanya lebih masuk akal kalau tidak dimulai dengan terburu-buru.
Di jalan, hal-hal kecil justru terasa paling melekat. Berhenti buang air di pinggir jalan sambil ditatap orang-orang yang lewat, atau melihat salah satu teman membawa motor tanpa rem. Bukan nekat, lebih ke percaya diri yang kelewat optimis. Nyali memang kadang tidak seimbang dengan logika.
Menjelang siang, kami berhenti di sebuah masjid pinggir jalan untuk menunaikan salat Jumat. Seusai salat, kami berbincang sebentar dengan bapak-bapak setempat. Mereka bertanya kami hendak ke mana, kami menjawab seadanya. Percakapan singkat, tapi hangat—seperti banyak pertemuan di jalan yang tidak perlu lama untuk terasa cukup.
Tujuan berikutnya adalah Bukittinggi. Di sana kami singgah di sebuah kafe rooftop bernama Saka. Tempatnya sederhana, tapi pemandangannya tidak. Dari atas, Bukittinggi terlihat dikelilingi gunung dan perbukitan, tenang, seolah waktu bergerak lebih pelan. Kami beristirahat cukup lama di sana, mengisi tenaga sebelum melanjutkan perjalanan ke Padang untuk bermalam.
Namun, seperti kebanyakan perjalanan, rencana tidak pernah sepenuhnya berjalan mulus.
Di Padang, sebuah insiden kecil membuat kami tertawa sekaligus panik. Saat menunggu palang kereta terbuka, salah satu motor tersangkut di sela rel. Begitu palang terangkat dan kami maju, motor itu tersungkur—jatuhnya mirip kodok. Kami langsung menepi, mengecek kondisi. Tidak ada luka serius, hanya motor yang sedikit protes. Perseneling bengkok, dan di situlah ilmu mekanik dadakan keluar. Dengan apa pun yang ada di sekitar, kami perbaiki seadanya. Tidak sempurna, tapi cukup untuk lanjut jalan. Kadang, “cukup” memang sudah lebih dari cukup.

Malam itu kami bermalam, membersihkan diri, lalu keluar lagi untuk kuliner. Lontong malam dan soto Padang dengan daging kering serta kuah beningnya jadi penutup hari yang panjang. Lelah, tapi puas. Kami kembali ke penginapan karena besok masih ada jarak yang harus ditempuh.
Esoknya kami berangkat agak siang menuju tujuan utama. Sayangnya, kejadian tidak mengenakkan kembali menimpa teman yang sama. Di sebuah rumah makan, motor seorang bapak yang ditunggangi anak kecil rebah dan menimpa motor teman kami. Ada dent, lampu sein patah. Lebih pahitnya, sang bapak berlagak berkuasa karena itu wilayahnya. Awalnya ia mengaku akan mengganti rugi, tapi ketika nominal kerusakan disebutkan, ia berdalih, mencari pembenaran, lalu hanya memberikan uang yang bahkan tidak sampai sepuluh persennya. Kalimat penutupnya singkat dan menyebalkan: “Kalau gak mau, saya pergi lagi ni.”
Kami memilih diam. Bukan karena benar, tapi karena tahu perlawanan hanya akan memperpanjang urusan. Kami pendatang. Dia orang setempat. Tidak semua pertempuran layak dimenangkan.
Dengan hati berat, kami meninggalkan tempat itu dan melanjutkan perjalanan. Di depan, alam seolah menunggu untuk menenangkan.
Alahan Panjang, Solok, Sumatra Barat, menyambut kami menjelang sore dengan kabut yang mulai turun, udara dingin, dan pemandangan yang nyaris tidak masuk akal. Pinus berdiri tenang, danau beriak pelan, angin dingin menyapu peluh perjalanan. Rasanya seperti berada di Swiss versi kita sendiri. Di sana kami bermalam, bermain board game, bercengkrama, dan membiarkan badan benar-benar istirahat.


Perjalanan pulang kami putuskan santai. Namun kenyataan kembali menguji. Malam turun, hujan datang saat kami berhenti makan malam. Waktu mendekati tengah malam, hari Minggu hampir habis, dan Senin menunggu dengan kewajiban kerja. Jalanan sepi, dingin, berkabut—rawan microsleep.

Kami berhenti di SPBU, membasuh muka, menyadarkan diri. Ada yang mendengarkan musik, ada yang bernyanyi, ada yang bergantian berkendara. Pelan-pelan, dengan sisa tenaga dan kesadaran yang dipaksa bertahan, kami melanjutkan perjalanan.Kami berhenti di SPBU, membasuh muka, menyadarkan diri. Ada yang mendengarkan musik, ada yang bernyanyi, ada yang bergantian berkendara. Pelan-pelan, dengan sisa tenaga dan kesadaran yang dipaksa bertahan, kami melanjutkan perjalanan.

Kami tiba di rumah saat waktu masuk kerja tinggal satu jam lagi.
Lelah, mata perih, badan pegal—tapi entah kenapa hati terasa penuh. Perjalanan ini tidak rapi, tidak sempurna, dan penuh gangguan. Tapi justru di situlah maknanya. Karena yang kami bawa pulang bukan cuma jarak tempuh, melainkan cerita yang akan terus hidup setiap kali jalan memanggil lagi.